Sejarah Jemaat

Jemaat Eben-Haezer Upa dalam proses pembentukan sejak masa kekafiran sampai menjadi jemaat devenitif merupakan sebuah mata rantai yang tidak lepas dari sejarah masa lampau, yakni sejak kedatangan Zendeling Hueting (Belanda) yang datang ke Tobelo tahun 1897 menggantikan Van Been (1982) di Tobelo. Metode penginjilan Van Hueting bersama istrinya, sangat sederhana yaitu dimulai dengan pendekatan kepada orang-orang kafir.

Dengan penuh kesabaran mereka melayani, akhirnya ± 6 bulan Van Hueting berhasil membakar secara besar-besaran apa yang dianggap berhala, untuk membuktikan bahwa kepercayaan terhadap agama suku sudah ditinggalkan. Aksi pembakaran benda-benda yang dianggap keramat tersebut berlangsung pada tanggal 25 dan 28 Maret 1898 di Desa Wosia dan Pitu, dan untuk memperlihatkan bahwa mereka sudah menjadi orang Kristen, maka salah satu tanda adalah memotong rambut panjang bagi laki-laki dewasa.

Tahun 1898, merupakan tahun rahmat Tuhan bagi orang-orang di sekitar Tobelo dan Kao, karena sampai dengan bulan Desember 1898, kampung-kampung yang telah diinjili oleh Van Hueting mendapat pelayanan rutin dari guru-guru Ambon, termasuk kampung Upa. Salah satu guru injil yang tercatat dalam sejarah yaitu guru Tutuarima, seorang guru jemaat yang membantu Van Hueting dalam pekerjaannya.

Tahun 1898, merupakan tahun rahmat Tuhan bagi orang-orang di sekitar Tobelo dan Kao, karena sampai dengan bulan Desember 1898, kampung-kampung yang telah diinjili oleh Van Hueting mendapat pelayanan rutin dari guru-guru Ambon, termasuk kampung Upa. Salah satu guru injil yang tercatat dalam sejarah yaitu guru Tutuarima, seorang guru jemaat yang membantu Van Hueting dalam pekerjaannya. Karena guru Tutuarima mengalami gangguan kesehatan, maka diangkat seorang dari kampung/desa bernama Sumange Manipa untuk membantu melaksanakan pekerjaan guru Tutuarima melayani di kampung-kampung, termasuk di kampung Gamsungi dan Tolonuo. Sumange Manipa adalah seorang Kristen yang tidak dapat menulis dan membaca, tetapi mempunyai pengetahuan tentang Alkitab. Sumange Manipa juga berhasil memberantas kebiasaan orang yang membawa sesaji (makanan untuk berhala).

Karena pergumulan tertentu menghadapi banyak tantangan, maka ia meletakan jabatan dan diganti oleh adiknya yang bernama Nabiu Manipa yang ketika itu ia dididik menjadi guru menggantikan kakaknya yang ditugaskan di Tobelo Utara. Nabiu Manipa juga tidak lama dalam tugasnya karena masalah rumah tangganya, sehingga ia mengundurkan diri sebagai guru jemaat/penginjil, dan masyarakat kampung Upa mengangkat beliau sebagai Kepala Kampung.

Pada tahun 2005, pemerintahan desa Upa dipimpin oleh Bpk. Alberth Hangkamo. Pada masa pemerintahan Kepala Desa A. Hangkamo, terjadi pemekaran Desa sesuai Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2006 menjadi 2 desa, yaitu Desa Upa dan Desa Kali Upa. Desa Upa tetap dipimpin oleh Kepala Desa Bpk. A. Hangkamo, dan Desa Kali Upa dipimpin oleh Bpk. Lewi Deni (karteker). Setelah ± 4 bulan, Bpk. Ansur Togolo dipilih menjadi Kepala Desa Kali Upa. Setelah pemerintahan Bpk. A. Hangkamo, Kepala Desa selanjutnya yaitu Bpk. Dirk Papilaya, dan pada tahun 2018 sampai sekarang, desa Upa dipimpin oleh Kepala Desa Bpk. Nomensen Manik.

Setelah pemekaran desa terjadi, kedua desa tetap sepakat untuk terikat dalam 1 jemaat, yaitu Jemaat Eben-Haezer Upa-Kali Upa. Nama ini juga ditetapkan karena jemaat tersebut dibangun di atas wilayah kedua Desa tersebut. Perkembangan jemaat Eben-Haezer Upa – Kali Upa, terbagi dalam 4 dekade, sebagai berikut :

Perkembangan Tahap 1

Tahun (1917 - 1945)

Setelah bertambah-tambah jumlah orang yang masuk Kristen, maka pada tahun 1917, Jemaat Upa mendirikan gedung Gereja Permanen yang diberi nama “Pniel”, dengan jumlah jiwa ± 200 orang, dan guru jemaat yang melayani umat yaitu : Gr. Nanlohy, dan sesudah itu dilanjutkan oleh Gr. Hamarauku.

Di zaman pendudukan Jepang tahun 1942, karena kondisi yang tidak aman, maka semua warga jemaat dan masyarakat Desa Upa mengungsi ke hutan dan menempati lokasi yang dianggap aman yaitu di “Lihalihanga”, sebuah lokasi kecil yang diapit oleh dua bukit terjal yang ada aliran sungainya.

Keluarga-keluarga yang tinggal di hutan selama zaman penjajahan Jepang yaitu : Kel. Ray-Ray, Kel. Wogono, Kel. Manipa, Kel. Deni, Kel. Tabaga, Kel. Sasingen, Kel. Barati, Kel. Nyula, dan keluarga-keluarga terkait lainnya, serta sejumlah anggota masyarakat lainnya. Tetapi meskipun tempat itu dianggap aman, namun tidak lama kemudian tempat itu diketahui juga oleh tentara Jepang, karena itu dari Lihalihanga, masyarakat/jemaat berpindah tempat lagi yaitu di Lahamawai, suatu tempat yang cukup aman dan tersembunyi. Di lokasi yang baru itulah Jemaat sempat membuat gereja darurat dan sekolah darurat. Di tempat itulah jemaat/masyarakat desa Upa dipimpin dan dilayani oleh Gr. Yosep Djawa (Bpk. dari Pdt. O. R. Djawa), dan yang menjadi guru sekolah yaitu Gr. Magani, serta yang menjadi Kepala Desa saat itu yaitu Simon Wogono.

Perkembangan Tahap II

Tahun (1945 - 1976)

Setelah pendaratan sekutu Amerika di Morotai pada tahun 1945, dan daerah
mulai aman, rakyat keluar dari hutan dan jemaat Pniel Upa mulai membangun
persekutuan kembali, dan sarana ibadah yang digunakan adalah Gereja Tua
yang ada di kampung. Namun tidak lama kemudian, jemaat membangun kembali gedung gereja semi permanen yang berlokasi di belakang kantor desa Upa sekarang, dengan nama “Pniel”, nama yang tidak berubah dari gedung gereja pertama

Perkembangan Tahap III

Tahun (1976 - 2013)

Pada saat Pdt. Corneles Ray-Ray menjadi pimpinan jemaat, ada upaya untuk membangun kembali gedung gereja yang lebih besar dengan konstruksi semi permanen, dan oleh tuntunan dan kasih Allah, gedung gereja tersebut di
tahbiskan pada tanggal 16 Desember 1976 dan diberi nama “Eben-Haezer” (sebuah nama yang diambil dari I Samuel 7:12, sebuah pergumulan Samuel bersama Tuhan dalam menghadapi tantangan berat dan Tuhan menolong
umat-Nya

Gedung Gereja Lama Eben Haezer Upa

Pada saat Pdt. Corneles Ray-Ray menjadi pimpinan jemaat, ada upaya untuk membangun kembali gedung gereja yang lebih besar dengan konstruksi semi permanen, dan oleh tuntunan dan kasih Allah, gedung gereja tersebut di
tahbiskan pada tanggal 16 Desember 1976 dan diberi nama “Eben-Haezer” (sebuah nama yang diambil dari I Samuel 7:12, sebuah pergumulan Samuel bersama Tuhan dalam menghadapi tantangan berat dan Tuhan menolong
umat-Nya

Perkembangan Tahap IV

Tahun (2013 - Sekarang)

Selama kurang lebih 9 tahun sejak peletakan batu pertama gedung Gereja (tahun 2004), dalam masa kepemimpinan Bpk. Pdt. Smith Dungir (selaku Pimpinan Jemaat), maka oleh anugerah kasih Tuhan, pada tanggal 16 Desember 2013, gedung gereja baru ini diresmikan dan ditahbiskan dengan nama yang tidak berubah, yaitu “Eben-Haezer”. Ini adalah gedung gereja yang ke-3, sejak jemaat Upa menjadi Jemaat Definitif dalam GMIH

Gedung Gereja Baru Eben Haezer Upa - Kali Upa

Sebagai persekutuan jemaat yang hidup dan berkembang dari waktu ke waktu sebagai organisasi jemaat, oleh gereja pernah mengutus sejumlah hamba Tuhan untuk memimpin/melayani jemaat ini secara berturut-turut, yaitu :

  1. Guru Magani (Bpk. dari S. Magani), tahun pelayanan (1946-1948).
  2. Guru Rubawange (Bpk. dari Pdt. Jan Rubawange), tahun pelayanan (1948- 1950).
  3. Guru Ipol (mertua dari Pdt. Jance Djumoko), tahun pelayanan (1950-1952)
  4. Guru Kornelius Manik, tahun pelayanan (1952-1953)
  5. Guru Pinoa (mertua dari Pdt. Jos Wangka), tahun pelayanan (1953-1954)
  6. Guru Pasimanyeku, tahun pelayanan (1954-1956)
  7. Guru Hitu, tahun pelayanan (1956-1957)
  8. Guru Babua, tahun pelayanan (1957-1958)
  9. Guru Tobias Djumoko, tahun pelayanan (1958-1960)
  10. Guru P. Duan (Bpk. dari Pdt. L. P. Duan), tahun pelayanan (1960-1963)
  11. Guru A. Papuling, tahun pelayanan (1963-1965)
  12. Guru Daga, tahun pelayanan (1965-1967)
  13. Guru Pulo, tahun pelayanan (1967-1969)
  14. Guru Barnabas Lasa (Bpk. dari Kaleb Lasa), tahun pelayanan (1969-1971)
  15. Guru Demianus Nyula (Bpk. dari Julius Nyula), tahun pelayanan (1971-1973)
  16. Pdt. C. Ray-Ray, tahun pelayanan (1973-1977)
  17. Pdt. O. Sasingen, tahun pelayanan (1977-1982)
  18. Guru K. Tjileni, tahun pelayanan (1982-1986)
  19. Guru B. Koloba, tahun pelayanan (1986-1989)
  20. Pdt. B. Radjangolo, tahun pelayanan (1989-1993)
  21. Pdt. Milka Manikome, tahun pelayanan (1993-1996)
  22. Pdt. Adriana Baura, S.Th, tahun pelayanan (1996-2003)
  23. Pdt. Ellen Koraag, tahun pelayanan (2003-2011)
  24. Pdt. Smith Dungir, S.Th, tahun pelayanan (2011-2019)
  25. Pdt. D. Kanal, S.Th, tahun pelayanan (2019-sekarang

Nilai Kearifan

Nilai kearifan jemaat tidak terlepas atau menjadi bagian yang telah bertumbuh sejak awal berasama kearifan lokal kedua desa tersebut. Nilai kearifan merupakan nilai-nilai yang masih dipertahankan dan diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat atau jemaat setiap hari, untuk kemudian kepada generasi selanjutnya. Nilai kearifan lokal pada prinsipnya merujuk kepada nilai-nilai moral atau nilai kebaikan yang dipercaya dan dijaga keberlangsungannya atau dilestarikan. Bentuk maupun nilai kearifan lokal yang telah ada sejak dahulu dan menjadi nilai budaya lokal desa Upa dan Kali Upa, antara lain :

  1. Rumah yang dibangun umumya menggunakan : daun pohon sagu untuk atap, bambu dan tangkai pohon sagu (gabah) untuk diinding, ijuk pohon enau untuk dibuatkan tali, dan bambu untuk dibuatkan paku.
  2. Lahan pertanian yang dibuka secara gotong-royong (bahirono). Ada beberapa hal yang umumnya dilakukan secara gotong royong saat pembukaan lahan pertanian, yaitu : menanam padi, menuai padi, memindahkan rumah dari satu
    tempat ke tempat sebelah/seberang.
  3. Kegiatan lain yang umumnya dilakukan secara gotong-royong, antara lain :
    • Pembuatan alas tidur/tikar, saringan kelapa, nyiru, gata-gata yang dihias, aya-aya.
    • Pembuatan anyaman tali dari ijuk yang digunakan sebagai tali jumuran, tali pengikat sapi, tali jangkar, tali timba, dan tali pengikat perahu (anyaman lebih halus).
    • Pembuatan anyaman tikar, tali agak kecil dan dianyam berlapis agar kuat.
    • Pembuatan tempat simpan pakaian.
    • Pembuatan sendok nasi dari kayu dan bambu, serta sendok kuah dari tempurung.
    • Pembuatan lesung yang digunakan untuk menumbuk padi dan menghaluskan bumbu.
    • Pembuatan perahu kecil untuk kegiatan memancing ikan.
    • Pembuatan jala menggunakan benang

Nilai-nilai tersebut di atas, seiring waktu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan jemaat mula-mula hingga pertengahan waktu perkembangan jemaat, dan terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini, beberapa nilai kearifan
lokal diatas sudah mulai hilang dari kehidupan masyarakat. Selain nilai-nilai diatas,
ada juga nilai-nilai lain yang bersifat teologis dan berdasar pada Alkitab, yang
dibangun dalam kehidupan jemaat mula-mula, antara lain :

  1. Minggu Tenang
    Hari minggu atau hari ahad, menrupakan hari istirahat sehari penuh bagi umat Kristiani Jemaat Eben-Haezer Upa-Kali Upa. Pada jemaat mula-mula, setiap pekerjaan sehari-hari, sudah diselesaikan pada hari sabtu (sebelum hari ahad), sehingga pada hari minggu, seluruh jemaat sudah terfokus pada ibadah Ahad
    maupun ibadah-ibadah lainnya. Pembagian waktu pelaksanaan ibadah Ahad, diatur dalam 3 bagian yang ditandai dengan bunyi lonceng, dan selalu diljalankan dengan teratur dan dalam ketaatan penuh, yaitu :
    • Bunyi lonceng I, jemaat secara keseluruhan menyiapkan diri pribadi maupun keluarga untuk hadir dan mengikuti ibadah Ahad.
    • Bunyi lonceng II, jemaat secara keseluruhan, baik pribadi maupun keluarga menuju ke gedung gereja atau tempat pelaksanaan ibadah Ahad
    • Bunyi lonceng III, acara ibada Ahad mulai dilaksanakan.
      Pada saat pelaksanaan ibadah Ahad, anggota jemaat (dewasa maupun anak-anak) yang tidak mengikuti ibadah Ahad, dilarang untuk melakukan perjalanan
      maupun aktifitas lainnya di luar rumah atau harus tetap berada di rumah
      (tempat tinggal) masing-masing sampai ibadah Ahad selesai dilaksanakan, dan
      jemaat yang beribadah telah berada di rumahnya masing-masing
  2. Pembatasan Aktifitas Saat Perjamuan Kudus
    Pada saat pelaksanaan ibadah Perjamuan Kudus, anggota jemaat (dewasa maupun anak-anak) yang tidak hadir dalam ibadah Perjamuan Kudus, dilarang untuk melakukan perjalanan maupun aktifitas lainnya di luar rumah atau harus tetap berada di rumah (tempat tinggal) masing-masing sampai ibadah Perjamuan Kudus selesai dilaksanakan dan jemaat yang beribadah telah berada di rumahnya masing-masing.
  3. Pakaian dan Aksesoris Ibadah
    Pakaian yang digunakan untuk ibadah, yaitu pakaian yang sederhana namun layak untuk digunakan untuk menghadap TUHAN dalam ibadah. Khusus untuk ibadah Perjamuan Kudus, pakaian yang digunakan yaitu pakaian berwarna hitam-hitam atau hitam-putih. Sedangkan, untuk ibadah duka, pakaian yang digunakan yaitu pakaian berwarna hitam-hitam. Aksesoris yang digunakan saat beribadah umumnya bervariasi, namun tetap mencerminkan kesederhanaan diri dari pemilik yang menggunakannya atau seadanya saja 
  4. Pelayanan Diakonia
    Bentuk pelayanan diakonia dari jemaat mula-mula, umumnya berupa : saling mengumpulkan beras dan kayu, untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.
  5. Makan Bersama
    Kegiatan makan bersama umumnya dilakukan oleh jemaat mula-mula untuk
    menjaga kehidupan persekutuan jemaat, agar tetap rukun dan ada dalam
    kebersamaan.
  6. Kekhususan Bagi Pemuda Saat Ibadah Pada saat kegiatan ibadah-ibadah, termasuk saat ibadah Ahad, ada perlakuan khusus yang diberikan bagi para pemuda jemaat, yaitu dengan menyediakan tempat duduk khusus bagi pemuda. Selain untuk menjaga persatuan dan persekutuan pemuda dalam jemaat, hal ini juga bermanfaat secara psikologis, karena para pemuda merasa nyaman dan rileks saat beribadah karena berada diantara sesama pemuda.

Daftar Pemimpin Jemaat

Jika Bapak Ibu Ingin Tau Kegiatan Pelayanan kami silakan, klik tombol pelayanan di bawah ini